Nasional

RUU P-KS: Sebuah Diary Depresi

oleh: Suhandi

(Kepala Departemen Kajian dan Aksi Strategis LDK SALIM UNJ 2019)

            Lagu Diary Depresiku merupakan lagu yang menceritakan  kisah seorang anak yang diusir dari rumahnya. Sebuah intrik yang tak bisa lepas dari drama kehidupan manusia. Intrik  tragedi dalam lagu tersebut, seolah menyaru ke setiap telinga yang mendengarnya. Berkatnya, nama grup band Last Child melejit di tahun 2010-an.

             Tragedi, memang lekat dengan drama kehidupan manusia. Manusia hanyalah pelakon dalam drama kehidupan tersebut, begitulah falsafah yang digunakan oleh bangsa Yunani Kuno. Al Attas melanjutkan, pemahaman tragedi kehidupan ini disebabkan oleh kehampaan kalbu akan nikmat iman. Kehampaan iman ini adalah akibat dari falsafah dualisme yang meyakini adanya dua hakikat yang saling bertentangan satu sama lain, sehingga menimbulkan ketegangan dalam jiwa.[1]

            Feminisme merupakan drama tragedi yang lain. Paderi-paderi Gereja menuding perempuan sebagai sumber malapetaka dan pembawa sial, biang keladi Adam diturunkan dari surga. Dalam pandangan St. Jerome, wanita adalah akar dari segala kejahatan (the root of all evilI). St. Albertus Magnus mengungkapkan, perempuan adalah laki-laki yang cacat sejak awalnya, serba kurang dari lelaki. Berbagai dalih tersebut yang membuat peran perempuan dibatasi dalam lingkup rumah tangga saja, tidak dibenarkan ikut campur dalam ‘urusan laki-laki’.[2]

            Tragedi berlanjut ketika kaum perempuan tidak menemukan jawaban yang tepat atas berbagai diskriminasi tersebut. Falsafah yang awalnya hanya menghendaki persamaan hak, berubah dengan tragis menjadi falsafah kebebasan yang sebebas-bebasnya. Filosofi my body is mine mendasari pandangan bahwa kebebasan sejati perempuan hanya bisa diwujudkan apabila perempuan dapat mengontrol tubuhnya sendiri.[3] Baginya, wanita harus terbebas dari ‘penjara kesadaran’ bahwa mereka merupakan korban patriarki, cengkeraman kaum laki-laki dan mereka hidup dalam dunia yang dikuasai laki-laki.[4] Belakangan mereka mengenal ketidakadilan gender yang menurut mereka disosialisasikan oleh sistem politik, agama, sosial, ekonomi dan hukum.[5] Berbagai pandangan tersebut, berbaur menjadi pandangan yang absurd, menuntut setiap institusi agar kebebasan yang mereka inginkan terpenuhi.

            Suatu hal yang menarik, ketika Virgoun, vokalis band Last Child, menuturkan kisah dibalik lagu Diary Depresiku. Lagu tersebut, dilatarbelakangi kisah seorang perempuan yang diusir dari rumahnya dan berkeliaran di jalanan pukul setengah 3 pagi.[6] Entah kebetulan atau tidak, lagu Diary Depresiku ini seolah menggambarkan keadaan Feminis belakangan ini. Bak, seorang wanita yang menulis sebuah diary dan berharap agar setiap orang membaca catatan kegelisahan tersebut, kemudian pandangan Feminis tersebut termanifestasi ke dalam Rancangan Undang-undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU-PKS).

            Mereka mencurahkan berbagai protes akan budaya patriarki, merasa menjadi korban subordinat dari suatu sistem politik, sosial, agama dan budaya ke berbagai pasal-pasal. Untuk mendukung argumennya, dikumpulkan lah berbagai kasus kejahatan seksual dan mengambil kesimpulan bahwa akar masalah dari kejahatan seksual adalah pandangan patriarki dalam kehidupan sosial dan budaya, yang didukung oleh faktor lainnya.[7]

            Ketidakadilan gender sebenarnya sudah selesai jauh sebelum faham Feminis itu muncul. Yaitu ketika Rasulullah SAW hadir membawa risalah Allah SWT di muka bumi. Sebelum Rasul datang, kelahiran seorang perempuan dianggap sebagai sebuah aib. Peran wanita direndahkan. Hal itu tergambar ketika Ibnu Katsir menafsirkan QS Al Ahzab ayat 35.[8]

إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

            “Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.”

            Imam Ahmad meriwayatkan, ‘Affan bercerita kepada kami, ‘Abdul Wahid bin Ziyad bercerita kepada kami, ‘Ustman bercerita kepada kami bahwa ‘Abdurrahman bin Syaibah berkata : Aku mendengar Ummu Salamah RA, isteri Nabi SAW berkata : Aku bertanya kepada Rasulullah SAW : Mengapa kami (kaum wanita) tidak disebutkan di dalam Al Qur’an sebagaimana disebutkannya laki-laki?”

            Rasul pun tidak menjawab apa-apa. Ketika suatu hari, turunlah ayat tersebut. Hal itu menyiratkan, kedudukan seorang wanita sama dengan seorang laki-laki, yang sebelumnya kedudukan perempuan pada masa jahiliyah sangat hina. Contoh lain yang lebih sporadis, yaitu perubahan makna karama (كرم)  berarti kemuliaan garis keturunan yang berkaitan erat dengan kedermawanan yang luar biasa. Pemaknaan itu berlaku pada masa jahiliyah. Ketika kemuliaan seseorang diukur dari banyaknya harta dan tingginya status sosial di masyarakat. Namun, QS Al Hujurat ayat 13 (إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ) turun , mengganti makna yang berlaku sebelumnya, dan ‘menabrak tatanan nilai sistem sosial, ekonomi, politik dan budaya’. Ukuran kemuliaan bukan lagi diukur dari hal yang besifat fisik, melainkan hal yang bersifat metafisik, yaitu taqwa (تقوى).[9] Itu artinya, kedudukan setiap manusia, baik laki-laki maupun perempuan di bidang sosial, politik, ekonomi dan budaya setara. Bahkan, tidak hanya menyetarakan, Islam pun meninggikan derajat perempuan. “Dunia ialah perhiasan,” tutur Nabi SAW sebagai mana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, “dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah.”

            Diary depresi yang termanifestasi ke dalam RUU-PKS, tidaklah cocok dengan kultur masyarakat Indonesia. Milieu ketika Feminisme muncul, berbau kebencian terhadap otoritas agama yang diwakili oleh Gereja. Meskipun Islam menjadi agama yang paling banyak dianut di Indonesia, namun aroma kebencian terhadap agama itu masih tetap terasa.  Larangan berpenampilan tertentu, dianggap sebagai kontrol sosial.[10] Hal itu tentu saja menyudutkan Islam yang melarang berpakaian mengumbar aurat/ bagian tubuh tertentu. Itu artinya, kaum feminis menghendaki kebebasan dari aturan agama dalam hal cara berpakaian.

            Banyak hal yang ingin kaum Feminis capai melalui diary depresi –RUU-PKS- nya. Pelegalan LGBT, aborsi dan seks di luar nikah, menjadi contohnya. Namun, karena mereka tahu bahwa hal tersebut bertentangan dengan norma yang ada di masyarakat, mereka menggunakan magic word dan mengajukan terminologi “kekerasan seksual.” Ada 15 jenis kekerasan seksual yang diajukan oleh Komnas Perempuan, yaitu[11] :

  1. Perkosaan
  2. Intimidasi Seksual
  3. Pelecehan Seksual
  4. Eksploitasi Seksual
  5. Perdagangan Perempuan untuk tujuan seksual
  6. Prostitusi Paksa
  7. Perbudakan Seksual
  8. Pemaksaan Perkawinan
  9. Pemaksaan Kehamilan
  10. Pemaksaan Aborsi
  11. Pemaksaan Kontrasepsi dan Sterilisasi
  12. Penyiksaan Seksual
  13. Penghukuman Tidak Manusiawi dan Bernuansa Seksual
  14. Praktik Tradisi Bernuansa Seksual yang Membahayakan atau Mendiskriminasi Perempuan
  15. Kontrol Seksual

            Sekilas memang definisi tersebut terlihat meyakinkan dan melindungi hak-hak perempuan. Tapi, jika dilihat lebih dalam, berbagai terminologi tersebut bersifat multitafsir, dan memungkinkan terjadinya pelanggaran terhadap norma agama dan budaya. Pemaksaan aborsi misalnya, kata ‘pemaksaan’ dalam kata tersebut menyiratkan bahwa aborsi yang dilakukan tanpa paksaan bukanlah kekerasan seksual. Hal itu bisa berimbas pada pelegalan aborsi. Padahal, aborsi merupakan pembunuhan terhadap janin yang belum lahir.

            Kemudian, pemaksaan kehamilan, kata ‘pemaksaan’ dalam kata tersebut menyiratkan bahwa kehamilan yang dilakukan tanpa paksaan bukanlah kekerasan seksual meskipun dilakukan di luar ikatan pernikahan. Padahal, menurut norma agama, hal tersebut merupakan zina yang tidak pantas untuk dilakukan.

             Ada terminologi lain yang sebenarnya lebih aman, yakni ‘kejahatan seksual’. kejahatan diartikan sebagai: 1) perbuatan yang jahat; 2) sifat yang jahat; 3) dosa; 4) perilaku yang bertentangan dengan nilai dan norma yang berlaku yang telah disahkan oleh hukum tertulis.[12] Oleh karena itu, arti kejahatan secara bahasa terkait erat dengan dosa dan perbuatan melanggar hukum atau norma yang telahdisepakati masyarakat. Henri Salahudin[13] menuturkan kejahatan seksual dalam Islam didefinisikan sebagai bentuk pelampiasan hasrat yang dilakukan secara tidak ma’ruf dan tidak legal. Bentuk kejahatan seksual, terbagi menjadi dua kategori, yaitu berdasarkan perbuatan dan objeknya.

            Dari sisi perbuatan, kategori kejahatan seksual meliputi: 1) berhubungan seks di luar nikah, baik dilakukan atas dasar suka sama suka maupun paksaan; 2) berhubungan seks secara menyimpang seperti sodomi, meskipun terhadap istrinya; 3) berhubungan seks yang dilakukan dengan cara sadistik dan disertai penyiksaan; 4) berhubungan seks yang dilakukan ke faraj istri di saat datang bulan (haid); 5) segala bentuk perbuatan dan perkataan yang bersifat melecehkan martabat dan harga diri seseorang, baik perempuan maupun laki-laki. Adapun kategori kejahatan seksual yang berkenaan dengan objeknya antara lain: 1) Berhubungan seks dengan hewan; 2) berhubungan seks dengan mayat; 3) berhubungan seks sesama jenis (homoseksual); 4) berhubungan dengan anak-anak di bawah umur (pedofilia); 5) berhubungan dengan orangtua sendiri atau saudara satu mahram (inses).

            Depresi diartikan sebagai gangguan jiwa pada seseorang yang ditandai dengan perasaan yang merosot (seperti muram, sedih, perasaan tertekan). Maka, biarlah depresi yang tertuang dengan tautan teori, yang terangkum dalam diary, hanya untuk kejahilan masa lalu. Penulis berharap, kekecewaan suatu kaum pada sistem di masa lalu, tidak dijadikan suatu nilai universal yang dipaksa untuk dianut bersama. Islam memberikan solusi yang lebih komprehensif, dengan tidak membawa dendam terhadap patriarki. Biarkan sistem patriarki itu musnah ditelan peadaban, dan kedudukan wanita yang sangat diakui kemuliannya oleh Islam, menjadi suatu mercusuar di antara gulita yang menerkam wanita.

[1] Muhammad Naquib Al Attas, Risalah Untuk Kaum Muslimin (Kuala Lumpur : International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC), 2001), hal. 21

[2] Syamsuddin Arif, Orientalis dan Diabolisme Pemikiran (Jakarta : Gema Insani, 2008),  hal. 104-105

[3] Dinar Dewi Kurnia, Penghapusan Kekerasan Seksual : Sebuah Kritik, dalam https://thisisgender.com/ diakses pada 30 Januari 2019 pukul 05.56, hal. 3

[4] Syamsuddin Arif, Op. Cit, hal. 107

[5] Naskah Akademik Rancangan dan Draft Undang-undang Penghapusan Kekerasan Seksual,  hal. 11

[6] https://hot.detik.com/music/2277790/cerita-di-balik-lagu-lagu-melankolis-last-child/228 diunduh pada 29 Januari pukul 23.47

[7]Naskah Akademik Rancangan dan Draft Undang-undang Penghapusan Kekerasan Seksual, hal. 84

[8] Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq Al Sheikh, Lubaabut Tafsir Min Ibni Katsir, pen. M. Abdul Ghoffar jilid 6 (Jakarta : Pustaka Imam Syafi’I, 2005), hal. 481-482

[9] Naquib Al Attas, Konsep Pendidikan Islam terj. The Concept of Education in Islam : A Framework for an Islamic Philosophy of Education oleh Haidar Bagir (Bandung : Mizan, 1992), cet. ke-4, hal.  28

[10] Naskah Akademik Rancangan dan Draft Undang-undang Penghapusan Kekerasan Seksual, hal. 33

[11] Ibid, hal. 34-37

[12] KBBI online

[13] Dinar, Op. Cit, hal. 8

3 pemikiran pada “RUU P-KS: Sebuah Diary Depresi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *