AgendaKampus

Rilis KUPAS #3 “Konstruksi Tradisi Keilmuan dalam Islam”

“KONSTRUKSI TRADISI KEILMUAN DALAM ISLAM”

Pemateri: Dr. Syamsuddin Arif, MA

Dalam mengetahui tradisi keilmuan dalam Islam, kita perlu mengetahui sejarahnya terlebih dahulu. Tradisi keilmuan dalam Islam sudah ada sejak zaman Rasulullah, dimana Rasulullah sudah memulai misi kenabiannya sejak turunnya wahyu. Wahyu yang dimaksud adalah Al-Qur’an.Al-Qur’an yang pada waktu itu turun secara berangsur-angsur, kurang lebih 23 tahun. Berawal dari wahyu itulah yang dikumpulkan menjadi Al-Qur’an, memicu adanya tradisi ilmu pengetahuan.

Dalam ilmu fisika, kita banyak mengenal istilah teori big bang. Dimana teori big bang ini alam semesta meledak dan menjadi berkeping-keping, sehingga memunculkan planet-planet baru. Ini seperti gambaran ilmu pengetahuan di waktu itu. Pada zaman jahiliyah, sudah banyak agama-agama selain Islam, seperti Nasrani, Majusy, dll. Awalnya Mekkah hanyalah kota perdagangan. Setelah Islam datang, yang dibawa oleh Rasul, ada revolusi (perubahan besar secara mendadak) pada masyarakat sekitarnya. Sebelumnya, masyarakat Kota Mekah tidak se-ilmiah itu, tetapi tiba-tiba ada tatanan baru di bidang politik, moral, dan sebagainya. Islam membawa tatanan baru (Ner World Order).

Konteks Geo-politik dan Sosio-kultural

Hingga abad ke-6 sampai Nabi Muhammad lahir, tidak ada ilmu yang berarti. Tidak ada pusat keilmuan, sumber-sumber bahasa juga tidak ada, yang ada hanyalah kehidupan sederhana dari suku-suku kabilah yang berpindah tempat untuk berdagang, pindah berdagang karena musim. Sebelum kelahiran Rasul, masyarakat dipengaruhi oleh dua imperium: a) Imperium Romawi Timur; b) Imperium Persia.

Manusia seperti logam, ada besi, ada perak. Ada yang kualitasnya sudah baik dan tidak akan berubah. Ibarat sebuah kepribadian, ada orang yang berkepribadian kuat, berani, amanah, dan lain-lain. Jika kita berpikir secara sekuler, maka ini dinamakan cultural advantage. Tetapi, jika kita lihat dari perspektif Islam, kenapa Allah memilih bangsa Arab dipilih sebagai tempat Nabi berdakwah sekaligus mendampingi rasulullah dalam dakwah dalam menyiarkan agama Islam ke seluruh penjuru dunia? Bisa jadi, karena memang orang-orang Arab dari segi kualitas sudah lebih baik kepribadiannya, kuat, menjunjung tinggi harga diri, berani, amanah, santun, dan lain-lain. Bangsa arab lebih suka bertutur (lisan) daripada tulisan. Jadi Al-Quran bisa terpelihara. Bangsa arab jahiliyah lebih mementingkan ingatan daripada tulisan-tulisan. Bukan berarti tulisan tidak ada sama sekali. Tulisan di batu juga ada, tapi jumlahnya tidak sebanyak yang dilisankan. Setiap wahyu yang turun, langsung disimpan, dirasakan dan masuk ke dalam akal kemudian diproses menjadi sebuah puisi, syair dan sebagainya (dalam bentuk lisan). Maka dari itu, Nabi Muhammad pernah berkata: “sebagian puisi mengandung hikmah, sebagian retorika bisa menyihir”. Ungkapan ini sangat mendalam, karena melihat dari banyaknya bangsa arab dulu yang suka dengan lisan.

Menurut Ibn Khaldun, “ilmu pengetahuan dapat berkembang pada masyarakat yang menetap, yang bernegara dan beradab”. Maka dari itu, bangsa-bangsa yg nomaden (berpindah-pindah) seperti mongolia, tidak punya peradaban. Mereka punya peradaban setelah mereka masuk Islam dan menetap di kota-kota. Ilmu pengetahuan merupakan suatu keniscayaan bagi peradaban. Tidak mungkin ada peradaban, tanpa ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan senantiasa muncul, karena manusia berpikir. Bagaimana mereka bisa hidup aman dan sejahtera kolektif dengan orang lain dan melaksanakan

Maka ilmu pengetahuan dan teknik lahir dari pengetahuan yang didorong oleh cita-cita. Ilmu pengetahuan buah dari kehidupan bersama-sama. Ini respon/upaya dari kebutuhan hidup mereka. Berpngetahuan adalah kebutuhan hidup. Contoh, Belanda dari ujung negara hanya perlu waktu beberapa jam, tidak sampai satu hari. Ujung pulau jawa sampai banyuwangi tidak cukup 12 jam. itu menyebabkan orang belanda tehimpit dan berpikir maka teknologi bendungan lebih banyak.

Perkembangan ilmu pengetahuan berbanding lurus dengan tingkat kemakmuran tatanan masyarakat. Semakin besar peradaban, makin berkembang suatu kota atau masyarakat, maka ilmu pengetahuan semakin berkembang. Maka, tradisi ilmu berkembang di kota mekah, dan kota lain saat sahabat lain menyebar. Di mesir, baghdad, dll. Asul ketika di madinah punya murid-murid (orang dewasa) sebagai ahlus suffah (beranda/teras/masjid). Orang-orang yang tinggal di beranda masjid, seperti komunitas jamaah tabligh. Mengembara sambil berdakwah.

Lahirnya ilmu-ilmu Sentripetal

Islam bertumpu/bersumber dari wahyu, kemudian dikumpulkan menjadiAl-Qur’an. Al-Qur’ansebagai sentral, layaknya matahari di tata surya. Bagaimana seriusnya masyarakat mempelajari al-quran sejak turun pertama sampai sekarang. Ilmu yang paling awal muncul, berkenaan dengan membaca Al-Qur’an, bahasa Al-Qur’an(Ullumul Qur’an). Ibn An-Nadim lahir di abad ke-4, beliau menyimpan informasi dari zaman sebelumnya. Beliau meninggal tahun 310 dan pernah enulis tafsir. Tidak mungkin Ibn At-Thabrani menulis tafsir, kalau tradisi baca, nulis, diskusi sudah dirintis oleh rasul dan para sahabatnya.

Ada 10 kategoori yang dicatat dalam kitabnya

  1. Ilmu linguistik dan bahasa asing
  2. Ilmu-ilmu tata bahasa yang meliputi nahwu, sharf dan pernak-pernik bahasa
  3. Ilmu-ilmu sejarah/histografi, genealogi, peristiwa-peristiwa besar
  4. Ilmu syair
  5. Ilmu kalam
  6. Ilmu fiqih
  7. Ilmu filsafat termasuk fisika
  8. Ilmu-ilmu khufarat
  9. Ilmu perbandingan agama
  10. Ilmu-ilmu kima, dan sebagainya.

Dengan fasilitas yang minim, sejak abad ke 3h – 4H sudahada pembelajaran intensif tentang itu semua. Dapat dibuktikan bahwa Imam Syafi’iyang meninggal pada tahun 3H, guru beliau pun juga sudah mengajarkan beliau. Ini menandakan perkembangan ilmu sudah ada sejak 1 Hijriah (awal hijriah).

Ilmu-ilmu Sentrifugal

Dengan begitu, berbagai ilmu pengetahuan satu persatu muncul seperti Bani Umayyah dan Bani Abbasiyyah yang melakukan menerjemahkan besar-besaran dan berkumpulnya para pakar dari seluruh penjuru dunia Islam untuk mempelajari dan mengembangkan ‘ilmu-ilmu orang zaman dahulu’, yakni ilmu kedokteran, matematika, fisika, biologi dan metafisika. Kaum muslimin mendalami ilmu tersebut, bukan untuk memenuhi dahaga akal saja, melainkan karena tuntutan agama. Dari sinilah, ada kaitan antara ilmu matematika untuk perhitungan zakat, ilmu astronomi untuk menentukan arah kiblat, geometri untuk penentuan waktu shalat, dan sebagainya.

Klasifikasi Ilmu Pengetahuan

Salah satu konsekuensi saat meledaknya ilmu pengetahuan adalah menyaring mana yang benar-benar ilmu, mirip ilmu dan sama sekali tidak layak disebut ilmu. Dari sinilah mendorong cendekiawan muslim untuk mengklasifikasikan ilmu. Imam Al-Ghazali membagi ilmu berdasarkan hadits Rasulullah, dibagi menjadi dua jenis: 1) ilmu yang wajib dipelajari (fard ‘ayn)meliputi ilmu-ilmu yang berkaitan dengan agama ; 2) ilmu-ilmu fard kifayah.

Epilogue

Dalam peradaban manapun, ilmu pengetahuan selalu datang secara bertahap. Menurut analisis Alparslan, membagi proses tersebut menjadi tiga. Pertama, problematic stage, dimana tahap ini Rasulullah dan para sahabat saling berpendapat dan mengadakan diskusi. Tahap ini berakhir sampai Rasulullah wafat. Kedua, disciplinary stage, dimana tahap ini berlangsung di zaman tabi’in yang sudah mulai ada tradisi ilmu. Ketiga, naming stage, setiap bidang ilmu yang selesai dirumuskan lalu diberikan nama khusus.

Closing Statement

Jika kita ingin produktif seperti tradisi keilmuan zaman dahulu, mulailah dengan menghargai waktu. Jika ada waktu luang, menulislah. Entah itu menulis di media apapun seperti ada amplop ataupun tisu bisa menulis disitu. Kita tidak bisa memilih antara belajar dari guru ataupun belajar sendiri (otodidak), ini seperti kita diminta untuk memilih apakah makan atau minum. Tidak bisa! Keduanya harus berjalan beriringan, harus dilakukan. Dengan otodidak, we teach ourselves, but whenever we have a chance, then you have to learn from teacher, why not? – Dr Syamsuddin Arif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *